Selasa, 06 Mei 2014

Yang sesaat

Ketika mata tertuju pada lengkung garis manis itu, entah sakit apa aku hingga keringat muncul tanpa instruksi. Seperti terhipnotis ku kehilangan sadar, aku coba mengatur pikiran namun aku semakin kehilangan akal. Hari berlalu ku semakin tertekan rindu, bahkan doa ku terbajak oleh dia yang namanya pun aku tak tau. Lama tak bertemu ku jumpa dia dalam pelataran kudus, aku kehilangan fokus, nyaliku menguap kejantananku putus. Coba kuat ku beranikan menatap, dadaku bergetar, mataku seakan menyapa, hay kamu wanita perusak dari mana asalmu. Sebuah paket kuterima, aku rasa ini undian doa, ku kenal dia dengan cara yang tak terduga. Ku tantang nyali untuk memulai sebuah interaksi, kusapa dia kutanya bagaimana ku bisa menghubunginya. Dia begitu magis, senyumnya begitu manis, aku terlena hatiku terkikis. Kusapa dia dengan sebuah kalimat tanpa makna, sderhana namun kenapa sulit ketika mengirimnya. Semua mengalir begitu cepat, hingga aku tak sempat menata hatiku yg terlanjur melekat. Kata demi kata mengalir, deras tak terbendung membanjiri hari yang telah lama kering, sampai pada satu titik dimana semua seakan mati. Kini aku tau dia sudah ada yang memiliki. Aku ingin berteriak hingga abis suaraku, aku ingin berlari jauh hingga aku tergeletak dan tak sanggup lagi berdiri. Rasa yang begtu hebat kini hilang begitu cepat. Ternyata selama ini aku salah, seperti sebuah teka teki yg sulit terprediksi, aku kehilangan arah. Ruang yang telah kusiapkan kini kurubuhkan, tak mampu aku melanjutkan karna aku tak mau menjadi hama yang merusak ilalang. Aku tau bagaimana rasanya ditikam tanpa persiapan, terluka dalam karana penghianatan. Kini aku putuskan untuk mengakhiri sesuatau yang tak pernah menjadi awal. Terimakasih untuk waktu yang sesaat, jika dia memang bagianku yang hilang, Tuhan pasti kasih jalan, dan aku tau itu tidak sekarang.

1 komentar: